Riwayat Kemiskinan

(Republika, 14 Ferbruari 2021)

Royhan memancang wajah di jendela, memaku pandang pada Aminah di badan jalan. Aminah melangkah terburu-buru, menyusuri jalan perempatan dengan tangan menenteng kantong plastik hitam berukuran tanggung. Royhan tahu, wanita yang telah melahirkannya itu hendak menilik salah seorang tetangga yang dikabarkan jatuh sakit dan tidak bangun-bangun selama dua hari itu.


Sebelum kepergiannya, Aminah sempat beradu mulut dengan Royhan. Royhan sebenarnya tak bermaksud berbuat lancang begitu. Ia hanya ingin mengingatkan ibunya agar tidak terlalu menuruti keinginan tetangga. Tapi sang ibu tak terima dan malah mengomel, “Ini urusan orang tua, Nak. Kamu tak perlu ikut campur. Lagipula Ibu tak mau menanggung malu jika tidak ikutan tetangga.” 


Saat adu mulut berlangsung, Aminah sebenarnya baru saja datang dari warung seberang jalan. Itu terbukti dengan adanya sebungkus gula pasir dan kopi yang tergeletak di atas meja kamar depan. Dan Royhan yakin ibunya pasti berutang lagi seperti sebelum-sebelumnya. Dan tentu saja, sebelum itu, ia telah mengadakan janjian dengan para tetangga.


Royhan mendesah mendapati kenyataan itu. Ia lantas mengalihkan pandangan ke luar tubuh jalan, tepatnya ke arah ladang di lereng perbukitan. Di lahan miring itu, ia melihat seorang lelaki paruh baya bergumul dengan terik panas, memikul timba seng di antara bedeng-bedeng, lalu dengan sabar mengairi tembakau-tembakau miliknya yang masih sejengkal. Dan lelaki yang tidak peduli dengan tubuhnya itu tak lain adalah Masduki, ayahnya sendiri.


Royhan masih ingat, sebelum memutuskan bertani tembakau, sebulan yang lalu, Masduki pernah berujar, “Nak, utang keluarga kita sudah menumpuk. Dan Ayah ingin bertani tembakau untuk melunasi utang-utang itu. Ayah yakin, harga tembakau tahun ini pasti akan naik. Doakan Ayah agar sukses!”


Sebenarnya keluarga Royhan bukanlah keluarga tidak punya. Pun dengan para tetangga. Di kampung mereka, Topoar, mata pencaharian sebenarnya tidak sesusah di kota-kota. Mereka bisa memperoleh banyak penghasilan dari berbagai macam pekerjaan yang tersedia di sana, seperti menganyam tikar, menyadap lahang, membuat kerajinan mebel, juga mengisi ladang-ladang dengan aneka tanaman palawija yang menguntungkan. Belum lagi jika mau beternak hewan seperti sapi, kambing, atau ayam.


Namun, ada satu kebiasaan yang membuat warga kampung tetap dalam kekurangan, yaitu tengka. Ya, tengka telah mencekik kehidupan mereka, sampai mereka jatuh miskin, sampai kebutuhan sehari-hari pun kerap tak terpenuhi kecuali berutang di warung-warung. Sialnya, tengka itu semakin berkembang dari hari ke hari. Yang sedianya hanya berlaku pada resepsi pernikahan, akikah kelahiran, dan selamatan kematian, kemudian merambat pula pada hal-hal lain yang sebenarnya tidak penting, seperti selamatan pembangunan rumah, selamatan wisuda kelas akhir bagi sang anak, juga acara sapot bagi tetangga yang jatuh sakit atau mengalami kecelakaan.


Mual-mula, sebelum tengka berlangsung, para tetangga biasanya nongkrong di suatu tempat, entah di gardu atau di emperan rumah tetangga. Mereka duduk berbanjar dengan tangan menelisik kutu pada rambut teman yang duduk di hadapannya. Tak jarang gosip-gosip dan kabar-kabar kampung mengalir dari mulut-mulut mereka. Dari sanalah kerap terjadi kesepkatan untuk berkunjung ke rumah siapa, dalam rangka apa, dan tentunya tidak datang dengan tangan kosong, melainkan dengan bawaan, entah beras, gula pasir, kopi, atau bawaan lain seperti yang Rayhan lihat pada kepergian ibunya di pagi menjelang siang itu.


Royhan terkesiap. Daun pintu tiba-tiba diketuk dari luar. Berkali-kali dan semakin keras. Buru-buru ia meninggalkan jendela dan beranjak menuju pintu depan. Ia pikir ayahnya sudah pulang dari ladang. Tapi ternyata tebakannya meleset. Begitu pintu dibuka, seorang wanita tambun berdiri dengan raut tak bersahabat.


“Ada Ibumu?” tanyanya begitu berhadapan dengan Royhan.


“Maaf, Ibu sedang keluar. Kalau boleh tahu, Ibu ini siapa, ya?” Royhan balik tanya.


“Bilang saja pada ibumu kalau Bu Marni datang ke sini,” ujarnya ketus lalu buru-buru pergi.


Sebentar Royhan menatap punggung wanita paruh baya itu. Ia bisa menebak, wanita itu pasti mau menagih utang pada ibunya. Dan itu memang sudah menjadi pemandangan biasa bagi dirinya, sebab ibunya memang suka mencecer utang di mana-mana. Ah, hidup di kampung ini memang susah, desah Royhan sebelum akhirnya kembali ke kamar.

***


Selama sebulan terakhir, Royhan sebenarnya dihadapkan pada sebuah dilema. Aisyah, kekasihnya, tak berhenti mendesak dirinya agar cepat-cepat mendatangi rumahnya dan melamarnya pada orang tua. Sementara, di sisi lain, ia juga dihadapan pada peliknya persoalan keluarga yang menuntutnya untuk segera menemukan jalan keluar.


Royhan dan Aisyah sebenarnya sudah cukup lama membina sebuah hubungan. Hubungan mereka bermula saat mereka sama-sama menghabiskan liburan pesantren. Waktu itu, Aisyah hendak mengunjungi salah satu teman pondoknya yang tinggal di desa lain. Namun motor yang ia kendarai tiba-tiba mogok di tengah jalan. Untung, Royhan melintas dan mencoba membantunya hingga motor itu kembali bisa dinyalakan. Dan dari sanalah mereka kemudian bertukar kontak lalu memilih berkomitmen satu sama lain.


Hubungan mereka terus berlanjut hingga sepasang kekasih itu sama-sama boyong dari pesantren. Royhan kembali ke desa asalnya, Karduluk, sementara Aisyah pulang ke Pakamban. Dua desa yang berbeda dan berjauhan. Namun hubungan mereka tetap baik-baik saja, sampai suatu hari, tepatnya sore itu, Aisyah mengajak Royhan untuk bertemu berdua di dermaga Aeng Panas. Dermaga yang terletak di desa sebelah Karduluk. 


“Aku tahu, ini pasti ada hal penting hingga kamu memintaku ke sini, Aisyah,” ujar Royhan dengan raut penuh tanda tanya. Royhan sepertinya sudah bisa menebak akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi.


“Betul, ini menyangkut hubungan kita, Royhan. Maaf, aku tak punya pilihan lain. Aku harus mengakhiri ini,” jawab Aisyah dengan wajah menunduk. 


“Apa maksudmu, Aisyah?”


“Orang tuaku terpaksa menjodohkan aku dengan lelaki lain karena kamu tak kunjung memberi kepastian.”


Mendadak Royhan bergeming. Air matanya kemudian meleleh seiring kepergian Aisyah yang semakin jauh. Ia akui itu memang salah dirinya. Tapi apakah penyesalan akan mengembalikan keadaan?

***


Semenjak hubungan cintanya kandas di tengah jalan, Royhan hanya suka menghabiskan waktunya di jendela, termenung sambil sesekali melihat ibunya keluar-masuk rumah, nongkrong bersama tetangga, dan menggosipkan apa saja yang lagi hangat di kampung.


Meski perasaannya sedang kacau, selama beberapa hari itu, Rayhan masih bisa menangkap dengan jelas obrolan-obrolan beberapa tetangga yang lewat di jalan dekat rumahnya. Obrolan-obrolan kali itu lebih mengarah pada gosip tentang seorang tetangga yang tidak ikut tengka yang mereka pegang teguh selama ini. Kabarnya, si tetangga tidak keluar rumah saat tetangga lain kompak menilik salah seorang tetangga yang baru saja melahirkan. Sebagaimana pelanggar adat pada umumnya, tetangga itu pun mendapatkan sanksi sosial: jadi buah bibir orang sekampung.


Lagi-lagi Royhan hanya bisa mendesah mendapati kenyataan itu. Ia pikir adat tengka di kampungnya sudah melampaui batas kewajaran. Hal itu juga diakui oleh ayahnya, Masduki. Bahkan, lelaki yang telah menghidupinya itu berkali-kali mengingatkan istrinya agar tidak terlalu menuruti adat tengka. Namun wanita itu selalu menyahut sinis, “Lebih baik berutang daripada dipermalukan, Pak.”


Begitulah, percekcokan rumah tangga itu tak kunjung usai. Hingga akhirnya, Aminah pun diperingatkan Tuhan. Ia diserempet sebuah mobil pikap di sebuah tikungan saat hendak mengunjungi seorang tetangga yang sedang menggelar hajatan. Akibatnya, ia tidak bisa ke mana-mana lagi karena kaki kanannya mengalami cedera parah. Ia hanya tergolek lemah di atas ranjang. Meratapi nasibnya sendiri yang tidak bisa lagi ber-tengka pada siapa pun. Sementara itu, tak ada satu pun tetangga yang meniliknya seperti yang biasa ia lakukan saat ada tetangga yang mengalami nasib naas seperti dirinya.


“Royhan, kenapa tak pernah ada tetangga yang menjenguk Ibu?” tanya Aminah heran pada suatu waktu.


“Mungkin tetangga lagi sibuk, Bu.”


“Ibu tak percaya itu. Ini pasti ada yang salah.”


“Kalau begitu, berarti tetangga sudah tidak peduli lagi pada Ibu.”


“Semoga itu hanya pikiranmu.”


“Sudahlah, Bu! Berhenti memikirkan tengka! Jelas-kelas tetangga memang tidak peduli pada Ibu.” 


Aminah mendadak bergeming. Wajahnya berubah cemas, seolah tak rela para tetangga melupakan dirinya begitu saja. Sementara itu, Royhan cepat-cepat keluar kamar. Meneteskan air mata. Merasa bersalah karena telah berani berbohong pada ibunya. Sebab, ia akui ialah yang diam-diam mencegat para tetangga agar tidak sampai menilik ibunya yang keras kepala itu.


Kota Ukir, 2020

Tengka: sebuah adat kampung di Madura di mana seorang tetangga mengunjungi tetangga lain yang memilki hajat atau yang berduka dengan menenteng bawaan.

Sapot: sebuah istilah Madura untuk tilikan/kunjungan dengan bawaan pada orang yang jatuh sakit atau yang mengalami kecelakaan.

Posting Komentar

0 Komentar